Hari itu kelabu. Sendu. Mengharu. Pilu. Ngilu. Kun memegang kepala dari pagi hingga sore menjelang di kantin Mbok Sum. Mbok Sum mengira Kun sedang meditasi. Mbok Sum tak mau mengganggu Kun. Takut kalau ada efek negatif dari ritual Kun jika Kun diganggu. Mbok Sum memetakan beberapa inisiatif. Pertama, guyur pakai air bekas cucian piring. Kedua pukul pakai wajan jumbo. Ketiga, panggilkan Fayya. Pilihan pertama dan kedua agak kurang manusiawi. Pilihan ketiga lebih baik.
"Maaf Mbok. Urusan Kun bukan urusan Fayya lagi." mata Fayya tertuju pada tanah.
"Kalian berantem?" mata Mbok Sum tertuju pada rambut Fayya.
"Gak Mbok." mata Fayya tertuju pada pipi tembem Mbok Sum.
"Lantas?" mata Mbok Sum tertuju pada daun jatuh.
"Kami berdua sudah tidak ada ikatan lagi Mbok." mata Fayya tertuju pada langit.
"Putus maksudnya?" mata Mbok Sum menyipit. Tapi tetap terlihat melotot.
"Iya Mbok."
"Sejak kapan?"
"Sejak kami putus Mbok."
"Kok Mbok Sum gak tahu yah?"
"Kan Mbok gak dikasih tahu."
"Penyebabnya apa Fay?"
"Penyebabnya karena kita putus Mbok."
"Gak kasian sama Kun? Seharian dia duduk sambil megang kepala lho."
"Kita memang gak cocok lagi Mbok."
"Fayya, dalam cinta itu tidak soal cocok atau tidak cocok. Dalam cinta itu yang diperlukan bukan kesamaan atau kecocokan. Dalam cinta itu yang dibutuhkan justru perbedaan. Semakin banyak perbedaan, maka semakin kamu akan mengerti siapa kekasihmu yang sebenarnya."
"Misalnya Mbok?"
"Kalau yang diutamakan kesamaan-kesamaan, ya ceritanya akan berakhir tragis seperti Romeo dan Juliet itu. Coba yang satu minum racun yang satu menyelamatkan, cari penawar. Kan ada usaha untuk merasakan nikmatnya cinta dalam kehidupan."
"Tapi itu kan janji suci mbok."
"Janji ya janji. Tapi yang wajarnya dong. Jangan terlalu puitis kalau berjanji. Kalau merayu, baru yang puitis. Harus dibedakan antara janji dan merayu. Jangan pura-pura berjanji tapi tujuannya merayu. Misalnya, KATAKAN TIDAK PADA KORUPSI. Itu janji yang merayu."
"Mbok," air mata Fayya tumpah, "Aku sebenarnya masih sayang sama Kun. Cuma, kadang anehnya gak ketulungan mbok. Masa ngasih bunga sampai tujuh rupa. Tujuh kali dalam sehari lagi."
"Itulah Kun. Dia itu bukan aneh tapi unik. Iya sih kadang mbok Sum juga sebel. Masa pesen es teh sampai tujuh gelas cuma ditumpuk-tumpuk aja bukannya diminum. Gimana? Sekarang ikut mbok ke kantin ya? Lihat Kun."
Fayya menerima ajakan Mbok Sum. Kun terlihat masih memegang kepalanya.
"Kun." panggil Fayya lembut.
"Hem?" Kun seperti bangun tidur.
"Kamu gak papa kan Kun?"
"Gak papa." mata Kun bengkak.
"Kamu habis menangis Kun?"
"Gak. Sepertinya aku ketiduran. Semalem habis lembur ngapalin mantra. Tebel banget kitabnya."
"Kun."
"Hem?'
"Maafin aku yah?"
"Soal apa?"
"Soal yang kemaren."
"Emang kemaren ada apa?"
"Aku mau kita balikan lagi."
"Emang kita putus apa?"
"Kun, kemaren kan aku minta putus dan kamu mengiyakannya bukan?"
"Kamu gak minta putus."
"Aku minta putus Kun."
"Gak. Kamu cuma bilang HARI INI HUBUNGAN KITA BERAKHIR SAMPAI DISINI. Itu kamu bilangnya hari Rabu kan? Pas aku ngasih kembang tujuh rupa tujuh kali dalam sehari itu kan? Ini hari apa? Sabtu kan? Hubungan kita kan berakhir cuma hari Rabu kemaren. Berarti Kamis dan seterusnya otomatis kita berhubungan lagi kan?" Kun polos. Fayya tersenyum sambil mengacak-acak rambut Kun.
Mbok Sum menarik Fayya menjauh dari Kun sambil berbisik,
"Kun itu bukan unik lagi. Tolong pukul kepala Kun pakai wajan jumbo ini."
Kun nyengir sendiri.
"Maaf Mbok. Urusan Kun bukan urusan Fayya lagi." mata Fayya tertuju pada tanah.
"Kalian berantem?" mata Mbok Sum tertuju pada rambut Fayya.
"Gak Mbok." mata Fayya tertuju pada pipi tembem Mbok Sum.
"Lantas?" mata Mbok Sum tertuju pada daun jatuh.
"Kami berdua sudah tidak ada ikatan lagi Mbok." mata Fayya tertuju pada langit.
"Putus maksudnya?" mata Mbok Sum menyipit. Tapi tetap terlihat melotot.
"Iya Mbok."
"Sejak kapan?"
"Sejak kami putus Mbok."
"Kok Mbok Sum gak tahu yah?"
"Kan Mbok gak dikasih tahu."
"Penyebabnya apa Fay?"
"Penyebabnya karena kita putus Mbok."
"Gak kasian sama Kun? Seharian dia duduk sambil megang kepala lho."
"Kita memang gak cocok lagi Mbok."
"Fayya, dalam cinta itu tidak soal cocok atau tidak cocok. Dalam cinta itu yang diperlukan bukan kesamaan atau kecocokan. Dalam cinta itu yang dibutuhkan justru perbedaan. Semakin banyak perbedaan, maka semakin kamu akan mengerti siapa kekasihmu yang sebenarnya."
"Misalnya Mbok?"
"Kalau yang diutamakan kesamaan-kesamaan, ya ceritanya akan berakhir tragis seperti Romeo dan Juliet itu. Coba yang satu minum racun yang satu menyelamatkan, cari penawar. Kan ada usaha untuk merasakan nikmatnya cinta dalam kehidupan."
"Tapi itu kan janji suci mbok."
"Janji ya janji. Tapi yang wajarnya dong. Jangan terlalu puitis kalau berjanji. Kalau merayu, baru yang puitis. Harus dibedakan antara janji dan merayu. Jangan pura-pura berjanji tapi tujuannya merayu. Misalnya, KATAKAN TIDAK PADA KORUPSI. Itu janji yang merayu."
"Mbok," air mata Fayya tumpah, "Aku sebenarnya masih sayang sama Kun. Cuma, kadang anehnya gak ketulungan mbok. Masa ngasih bunga sampai tujuh rupa. Tujuh kali dalam sehari lagi."
"Itulah Kun. Dia itu bukan aneh tapi unik. Iya sih kadang mbok Sum juga sebel. Masa pesen es teh sampai tujuh gelas cuma ditumpuk-tumpuk aja bukannya diminum. Gimana? Sekarang ikut mbok ke kantin ya? Lihat Kun."
Fayya menerima ajakan Mbok Sum. Kun terlihat masih memegang kepalanya.
"Kun." panggil Fayya lembut.
"Hem?" Kun seperti bangun tidur.
"Kamu gak papa kan Kun?"
"Gak papa." mata Kun bengkak.
"Kamu habis menangis Kun?"
"Gak. Sepertinya aku ketiduran. Semalem habis lembur ngapalin mantra. Tebel banget kitabnya."
"Kun."
"Hem?'
"Maafin aku yah?"
"Soal apa?"
"Soal yang kemaren."
"Emang kemaren ada apa?"
"Aku mau kita balikan lagi."
"Emang kita putus apa?"
"Kun, kemaren kan aku minta putus dan kamu mengiyakannya bukan?"
"Kamu gak minta putus."
"Aku minta putus Kun."
"Gak. Kamu cuma bilang HARI INI HUBUNGAN KITA BERAKHIR SAMPAI DISINI. Itu kamu bilangnya hari Rabu kan? Pas aku ngasih kembang tujuh rupa tujuh kali dalam sehari itu kan? Ini hari apa? Sabtu kan? Hubungan kita kan berakhir cuma hari Rabu kemaren. Berarti Kamis dan seterusnya otomatis kita berhubungan lagi kan?" Kun polos. Fayya tersenyum sambil mengacak-acak rambut Kun.
Mbok Sum menarik Fayya menjauh dari Kun sambil berbisik,
"Kun itu bukan unik lagi. Tolong pukul kepala Kun pakai wajan jumbo ini."
Kun nyengir sendiri.